adacirebon.com – Sebanyak 1.820 anggota Pramuka Kabupaten Cirebon mendapatkan pembekalan penggunaan radio amatir untuk mendukung komunikasi ketika terjadi bencana.
Keterampilan ini menjadi penting karena gangguan jaringan telekomunikasi dapat menghambat penyampaian informasi dan koordinasi saat situasi darurat.
Pembekalan tersebut berlangsung dalam kegiatan Jamboree on the Air (JOTA) dan Jamboree on the Internet (JOTI) 2026 di halaman Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Cirebon, Kecamatan Plumbon, pada 16–18 Oktober 2026.
Dalam kegiatan ini, Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Cirebon menggandeng Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Kabupaten Cirebon.
Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal perangkat radio sekaligus mempraktikkan teknik komunikasi yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi.
Ketua ORARI Lokal Kabupaten Cirebon, H. Iman Supriadi dengan callsign YB1NLM, mengatakan radio amatir dapat menjadi sarana komunikasi alternatif ketika jaringan telekomunikasi konvensional mengalami gangguan.
“Radio amatir dapat menjadi sarana komunikasi alternatif saat jaringan telekomunikasi terganggu, terutama untuk mendukung koordinasi dan penyampaian informasi ketika terjadi bencana,” ujar Iman, Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, penguasaan komunikasi radio tidak cukup hanya dengan mengenali perangkat. Pengguna juga perlu memahami prosedur komunikasi agar pesan dapat disampaikan secara tertib, jelas, dan efektif.
Dalam pelatihan tersebut, anggota Pramuka mempelajari sejumlah materi teknis komunikasi radio amatir.
Materi itu mencakup Operating Procedure Net Control Station (NCS), praktik komunikasi dua arah atau QSO (radio contact), serta teknik pencarian sumber pancaran sinyal melalui kegiatan fox hunting.
Praktik komunikasi dilakukan pada pita frekuensi 2 meter, 40 meter, dan 80 meter. Pengenalan berbagai pita frekuensi tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai penggunaan perangkat radio dalam kegiatan komunikasi amatir.
Iman menjelaskan, setiap materi dirancang untuk memperkenalkan cara berkomunikasi melalui radio sekaligus membangun pemahaman peserta terhadap tata cara operasionalnya.
“Kami mengenalkan berbagai teknik komunikasi radio kepada anggota Pramuka, mulai dari prosedur komunikasi melalui Net Control Station, praktik komunikasi radio amatir, hingga kegiatan fox hunting,” katanya.
Melalui praktik tersebut, peserta dapat mengenali fungsi pengendalian komunikasi, memahami pertukaran informasi dua arah, serta mempelajari cara menelusuri sumber pancaran sinyal radio.
Keterampilan ini juga memberikan pengalaman teknis yang berbeda dari penggunaan telepon seluler dan aplikasi pesan instan.
Radio amatir dapat beroperasi melalui sistem komunikasi radio tersendiri, meskipun penggunaannya tetap membutuhkan perangkat, sumber daya, frekuensi yang sesuai, serta operator yang memahami ketentuan berlaku.
Radio Amatir untuk Situasi Darurat
Selain materi teknis, peserta mendapatkan pengenalan layanan komunikasi darurat atau emergency service.
Materi ini membahas peran komunikasi radio dalam membantu penyampaian informasi dan koordinasi ketika jaringan telekomunikasi umum tidak dapat digunakan.
Dalam penanganan bencana, kelancaran komunikasi menjadi salah satu kebutuhan penting.
Informasi mengenai kondisi lapangan, kebutuhan bantuan, maupun perkembangan situasi perlu disampaikan kepada pihak terkait agar respons dapat dilakukan secara tepat.
Gangguan jaringan komunikasi dapat memperlambat proses tersebut.
Karena itu, pengenalan radio amatir kepada anggota Pramuka menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengetahuan mereka mengenai alternatif komunikasi.
Meski demikian, kemampuan mengoperasikan radio tidak secara otomatis menjadikan setiap peserta sebagai petugas komunikasi darurat.
Penggunaan radio dalam situasi kebencanaan tetap memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang, operator yang kompeten, serta kepatuhan terhadap peraturan komunikasi radio.
Dengan pembekalan tersebut, anggota Pramuka diharapkan memiliki pemahaman awal mengenai fungsi radio amatir dan potensinya dalam mendukung koordinasi saat kondisi darurat.
JOTA-JOTI Perkuat Keterampilan dan Karakter Pramuka
Sementara itu, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Cirebon yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, H. Ronianto, mengatakan penguasaan teknologi komunikasi perlu menjadi bagian dari peningkatan kapasitas anggota Pramuka.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya berguna dalam kegiatan kepramukaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat.
“Kami berharap anggota Pramuka dapat memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, serta mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan informasi,” ujar Ronianto.
Ia menilai JOTA-JOTI menjadi sarana pembelajaran yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan pembentukan karakter.
Melalui komunikasi radio dan internet, peserta juga berkesempatan berinteraksi dengan anggota Pramuka dari berbagai daerah.
Interaksi tersebut dapat memperluas persahabatan sekaligus menumbuhkan pemahaman bahwa teknologi komunikasi memiliki peran dalam membangun hubungan dan kerja sama lintas wilayah.
“Pramuka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kepramukaan. Kami ingin peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang mandiri, disiplin, dan peduli terhadap sesama,” ungkapnya.
Rangkaian JOTA-JOTI 2026 juga mencakup kegiatan perkemahan bersama pada 17–18 Oktober 2026.
Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pembinaan karakter, melatih kemandirian, serta membangun kedisiplinan dan kebersamaan di antara anggota Pramuka.
Perkemahan menjadi ruang bagi peserta untuk menerapkan nilai-nilai kepramukaan melalui aktivitas kelompok dan kehidupan bersama.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat membangun tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap sesama.
“Perkemahan bersama ini bertujuan meningkatkan kemandirian, kedisiplinan, serta mempererat persaudaraan antaranggota Pramuka,” pungkas Iman.
Melalui JOTA-JOTI 2026, Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Cirebon bersama ORARI Lokal Kabupaten Cirebon berupaya memperluas keterampilan anggota, mulai dari pemanfaatan teknologi komunikasi hingga penguatan karakter.
Pembekalan radio amatir diharapkan menjadi bekal pengetahuan yang berguna bagi anggota Pramuka, termasuk dalam memahami pentingnya komunikasi alternatif ketika menghadapi keadaan darurat.









Tulis komentar Anda…Beri Komentar