ADACIREBON – Masalah kekurangan dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan (nakes) masih menjadi tantangan mendesak di kawasan Asia Pasifik. Menanggapi isu kritis ini, Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) mendorong penguatan kapasitas nakes melalui transformasi digital, termasuk integrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Langkah strategis tersebut menjadi agenda utama dalam Konferensi ke-14 AAAH yang digelar di Bali pada 2–5 November 2026. Forum regional ini menghimpun perwakilan dari 22 negara anggota serta mitra internasional guna merumuskan solusi atas kompleksitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan.

Kompleksitas Tantangan SDM Kesehatan di Asia Pasifik

Ketua AAAH periode 2024–2026, Anna Kurniati, menegaskan bahwa permasalahan SDM kesehatan di Asia Pasifik tidak hanya berpusat pada keterbatasan jumlah dan pemerataan nakes. Negara-negara di kawasan ini juga dihadapkan pada ancaman fenomena penuaan penduduk, lonjakan penyakit tidak menular, dan potensi kedaruratan kesehatan akibat perubahan iklim.

Anna menyatakan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menyelesaikan dinamika ini secara mandiri. Oleh karena itu, kolaborasi regional lewat pertukaran pengalaman dan best practice menjadi kunci utama.

Dalam konferensi tersebut, AAAH menegaskan tiga pilar utama penanganan.

  • Leadership and governance
  • Transformative education and wellbeing
  • Digital transformation

Pada pilar transformasi digital, penerapan teknologi dinilai ampuh memperkuat sistem informasi kesehatan, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, serta memperluas akses pengembangan kompetensi nakes hingga ke wilayah terisolasi.

Kondisi dan Langkah Strategis SDM Kesehatan di Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Direktur Penyediaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Ika Trisia, memaparkan potret ketersediaan nakes di Indonesia. Saat ini, Indonesia mencatat 180.327 dokter teregistrasi dengan rasio 0,62 per 1.000 penduduk.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan capaian fasilitas pelayanan kesehatan nasional.

  • Puskesmas — 63% (6.520 dari 10.337 Puskesmas) telah memenuhi kelengkapan sembilan jenis nakes sesuai standar.
  • RSUD — 80,8% (681 dari 843 RSUD) telah memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar.

Meskipun capaian tersebut menunjukkan kemajuan, tantangan besar masih membayangi pemenuhan dokter spesialis dan pemerataan distribusi nakes di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).

Guna mengatasi kesenjangan ini, pemerintah Indonesia menerapkan empat langkah strategis transformasi SDM kesehatan.

  1. Perencanaan berbasis bukti. Menyusun kebutuhan nakes berdasarkan data nasional berkualitas agar selaras dengan kebutuhan masa depan.
  2. Penguatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi, simulasi klinis, dan keterampilan adaptif terhadap pelayanan kesehatan modern.
  3. Percepatan pemerataan distribusi. Mengatasi keterbatasan akses layanan medis dan kekurangan dokter spesialis di wilayah terpencil.
  4. Akselerasi transformasi digital. Memanfaatkan platform dan sistem informasi SDM kesehatan untuk memfasilitasi pembelajaran berkelanjutan dan pengembangan kompetensi nakes secara inklusif.***