ADACIREBON – Dalam upaya menekan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat pembakaran sampah sembarangan, mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) meluncurkan program kesehatan lingkungan bertajuk Rumah Anti Asap Sampah (RUMASAH).
Kegiatan yang digagas mahasiswa Pembelajaran Berbasis Lapangan (PBL) Kelompok 19 AKSARA (Aksi Bersama Masyarakat) ini berlangsung pada 21–24 Oktober 2026 di Dusun Cibentang, Desa Mekarharja, Kota Banjar. Program tersebut dirancang berdasarkan hasil diagnosis masalah kesehatan komunitas bersama pemerintah desa setempat.
Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai partikel berbahaya yang dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk risiko ISPA. Oleh karena itu, edukasi pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi fokus utama intervensi ini.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa Unsil menghadirkan tiga program intervensi utama untuk mengatasi permasalahan sampah di permukiman warga.
Edukasi Pemilahan Sampah melalui SIRKULA
Program pertama adalah SIRKULA (Sinergi Warga dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan), yang dilaksanakan pada Rabu (21/10/2026) di Posyandu Cibentang 1.
Program ini memberikan pemahaman kepada warga mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu.
Edukasi disampaikan secara interaktif melalui diskusi dan permainan edukatif, dilengkapi tes sebelum dan sesudah kegiatan atau pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman masyarakat.
Pembuatan Lubang Biopori melalui GEMPAR BIOPORI
Untuk menangani sampah organik, mahasiswa bersama warga melaksanakan program GEMPAR BIOPORI (Gerakan Masyarakat Pandai Biopori) pada Kamis (22/10/2026).
Sebanyak tujuh lubang biopori dibuat dan tersebar di tujuh RT dalam wilayah RW 006 dan RW 007.
Lubang biopori tersebut dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos alami, meningkatkan daya resap air di lingkungan permukiman, serta meminimalkan jumlah sampah organik yang berpotensi dibakar.
Reaktivasi Bank Sampah SAMEKAR
Rangkaian kegiatan ditutup pada Sabtu (24/10/2026) melalui forum diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) dalam program SAMEKAR (Sampah Mekarharja Kelola Bersama). Kegiatan berlangsung di kediaman Kepala Desa Mekarharja.
Diskusi tersebut melibatkan para pemangku kepentingan desa, termasuk kepala desa, sekretaris desa, ketua BPD, kepala dusun, ketua PKK, kader Posyandu Cibentang 1 dan 3, serta pengelola bank sampah.
Forum ini membahas solusi atas kendala operasional Bank Sampah SAMEKAR sekaligus menyusun strategi untuk mengaktifkan kembali layanan pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut.
Mendapat Apresiasi Pemerintah Setempat
Program RUMASAH mendapat sambutan hangat dari pemerintah setempat. Kepala Dusun Cibentang, Rudi, mengapresiasi langkah inovatif para mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat.
“Warga jadi paham bahwa sampah tidak harus dibakar. Dengan dipilah dan diolah lewat biopori, lingkungan lebih bersih dan kesehatan warga ikut terjaga,” ujar Rudi, seperti dilansir situs resmi Pemprov Jabar.
Melalui sinergi ketiga program tersebut, mahasiswa PBL Kelompok 19 Unsil berharap warga Dusun Cibentang terbiasa memilah sampah rumah tangga secara mandiri, memanfaatkan teknologi sederhana seperti biopori, serta menghentikan kebiasaan membakar sampah demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan mengurangi risiko ISPA.***









Tulis komentar Anda…Beri Komentar