Adacirebon.com — Halaman terbuka membentang di depan bangunan putih itu. Bagian tengahnya menjulang, diapit sayap bangunan yang lebih rendah. Dalam foto hitam putih koleksi Wereldmuseum, Belanda, wajah lama Balai Kota Cirebon masih dapat dikenali.
Foto karya G.F.J. Bley tersebut diperkirakan diambil antara 1927 dan 1933. Judul arsipnya, Het raadhuis van de gemeente Cheribon, menunjukkan fungsi bangunan sebagai balai kota. Nama Cirebon ketika itu masih ditulis “Cheribon”.
Dokumentasi ini merekam tampak depan gedung beserta halaman dan pepohonan di sekitarnya. Keterangan koleksi menyebut J.J. Jiskoot sebagai arsiteknya. Rentang tahun yang tercantum merupakan perkiraan waktu pemotretan, bukan masa pembangunan gedung.
Bangunan lama di Jalan Siliwangi
Balai Kota berada di Jalan Siliwangi, berhadapan dengan gedung DPRD dan Hotel Prima. Lokasi tersebut disebut dalam tulisan mengenai Museum Topeng yang diterbitkan di situs Pemerintah Kota Cirebon pada 4 November 2025.
Tulisan yang sama menempatkan Museum Topeng di sayap kiri Balai Kota. Dengan demikian, bagian dari gedung lama ini telah dimanfaatkan untuk memperkenalkan koleksi budaya kepada masyarakat.
Sebelumnya, Pemkot membuka Diorama Arsip di Balai Kota pada 27 Juli 2024. Materi yang disajikan meliputi dokumentasi bangunan tua, lambang kota, serta para pemimpin Cirebon dari masa ke masa.
Penataan ruang kemudian berkembang. Publikasi Pemkot pada November 2025 menyebut ruang depan yang sebelumnya digunakan untuk Diorama Arsip telah dikosongkan untuk mendukung pengembangan Museum Topeng. Karena itu, keterangan pembukaan diorama pada 2024 perlu dibaca sebagai catatan kegiatan saat itu, bukan kepastian susunan ruang sekarang.
Koleksi bertambah, pengunjung berdatangan
Museum Topeng diresmikan pada 2 September 2024. Dua tahun kemudian, perkembangannya kembali dilaporkan Pemkot melalui publikasi tertanggal 3 September 2026.
Dalam keterangan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmajaya, menyebut museum awalnya memiliki sekitar 130 koleksi. Jumlah itu kemudian bertambah melalui hibah sekitar 500 koleksi topeng dari keluarga Nani Taufik.
Publikasi tersebut juga mencatat lebih dari 18.000 kunjungan selama dua tahun. Selain ruang koleksi utama, terdapat bangunan Narada yang menjadi bagian pengembangan museum, dengan membawa koleksi workshop dan galeri dari Kuningan ke Cirebon.
Foto lama Bley memperlihatkan bangunan dari luar. Catatan lokal mengenai museum menambahkan cerita tentang pemanfaatan ruang di dalamnya. Keduanya membantu membaca perjalanan Balai Kota: dari gedung yang direkam pada masa kolonial menjadi tempat masyarakat mengenal koleksi budaya Cirebon.











Tulis komentar Anda…Beri Komentar