ADACIREBON – Di era digital saat ini, eksistensi lagu anak-anak menghadapi tantangan besar. Berbeda dengan era 1990-an di mana televisi menjadi pusat hiburan keluarga, kini anak-anak lebih akrab dengan gawai (gadget) dan bebas memilih konten mandiri. Perubahan lanskap media ini membuat jembatan penghubung antara pencipta lagu dan anak-anak sebagai pendengar sempat terputus.
Program KICAU untuk Menghidupkan Kembali Lagu Anak
Merespons hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan program Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU). Program ini tidak hanya menghadirkan lagu-lagu edukatif, tetapi juga memperluas pemanfaatannya untuk kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah.
Ria Enes Soroti Jembatan antara Pencipta Lagu dan Anak
Musisi legendaris pencipta karakter Susan, Wiwiek Suryaningsih (Ria Enes), mengungkapkan bahwa sebenarnya produksi dan antusiasme terhadap lagu anak masih sangat tinggi. Hanya saja, sosialisasinya kurang optimal di era digital.
“Kita kehilangan jembatan. Produksi ada, anak-anak butuh, tetapi kok tidak nyambung. Berarti harus disambung jembatan,” ujar Ria Enes.
Lebih dari sekadar hiburan, Ria mengingatkan bahwa bernyanyi bersama terbukti efektif untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Mencairkan suasana dalam keseharian, serta memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri secara positif.
Strategi Kemendikdasmen Memperkenalkan Lagu KICAU
Sebagai bentuk aksi nyata, Kemendikdasmen menggandeng para musisi dan kreator konten untuk memproduksi video pemanfaatan lagu KICAU di Surakarta pada 28–30 Oktober 2026.
Gerakan Bersama melalui Sekolah dan Daerah
Sejumlah strategi penting yang dirumuskan dalam kegiatan ini meliputi gerakan bersama melalui sekolah dan daerah.
Musisi anak, Elsa Sigar menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Sosialisasi lagu anak perlu digencarkan lewat kegiatan di sekolah, lomba menyanyi, gerak dan lagu, hingga festival daerah.
Pendekatan Kreatif melalui Media Sosial
Selanjutnya, pendekatan kreatif lewat media social (Medsos). Kreator konten sekaligus Duta Bahasa, Nadhira dan Dane, menyarankan agar lagu KICAU diperkenalkan secara organik. Caranya dengan memasukkan lagu-lagu tersebut sebagai backsound konten keseharian, vlog perjalanan, atau aktivitas menarik sebelum menyampaikan pesan edukasinya secara mendalam.
Produksi Video KICAU Memadukan Edukasi dan Budaya Lokal
Pengambilan materi video produksi KICAU dilakukan di lokasi ikonik seperti Keraton Surakarta Hadiningrat dan Museum Lokananta, memadukan unsur edukasi modern dengan kekayaan budaya lokal agar lebih dekat dengan kebiasaan digital masyarakat.
Melalui strategi adaptif ini, program KICAU diharapkan mampu menjadi solusi efektif agar lagu anak-anak kembali berjaya dan menemani tumbuh kembang generasi muda di era digital.***













Tulis komentar Anda…Beri Komentar