adacirebon.com- Bagi penghobi burung kicau, suara gacor dari dalam sangkar tentu menjadi kepuasan tersendiri.
Namun, bagaimana jika burung yang biasanya rajin berkicau tiba-tiba diam?
Kondisi tersebut sebenarnya tidak selalu berarti burung sedang sakit.
Ada berbagai faktor yang dapat membuat burung mengalami penurunan aktivitas berkicau, mulai dari proses pergantian bulu, perubahan lingkungan, pakan, kebisingan hingga stres akibat perpindahan tempat.
Karena itu, pemilik burung disarankan tidak terburu-buru mengambil tindakan sebelum mengetahui penyebabnya.
Moh Syarif, pebudidaya burung kicau, khususnya murai, di kawasan Perumahan Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membagikan pengalamannya menangani burung yang mengalami stres.
“Kalau burung piaraan Anda stres, masih ada solusinya, jangan malah ikut stres,” kata pria yang akrab disapa Mas Arif tersebut, Kamis (24/9/2026).
Kenali Penyebab Burung Berhenti Berkicau
Menurut Arif, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengamati penyebab burung mengalami perubahan perilaku.
Sebab, burung yang mendadak tidak berkicau belum tentu mengalami stres.
Salah satu kondisi yang umum terjadi adalah masa pergantian bulu atau moulting.
Ketika memasuki fase tersebut, burung cenderung mengurangi aktivitas, termasuk berkicau.
“Kalau bulunya sedang rontok memang susah untuk mengatasinya. Burung jenis apa pun kalau sedang rontok rata-rata sangat malas berkicau,” ujarnya.
Selain pergantian bulu, perubahan lokasi kandang juga dapat memengaruhi perilaku burung.
Suasana baru, suara yang terlalu ramai, keberadaan manusia atau hewan lain hingga perubahan pola pemberian pakan dapat membuat burung membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Kembalikan Suasana Seperti Habitat Alami
Jika penyebab stres tidak diketahui secara pasti, Arif menyarankan pemilik mencoba menciptakan lingkungan yang lebih mendekati kondisi alami burung.
Salah satu jenis yang menurut pengalamannya membutuhkan perhatian terhadap kondisi lingkungan adalah burung branjangan.
Burung tersebut disebut menyukai suasana yang relatif tenang, tetapi tetap membutuhkan paparan sinar matahari.
Karena itu, posisi kandang perlu diperhatikan. Pemilik dapat menempatkan kandang di lokasi yang memperoleh sinar matahari dengan cukup, tetapi tetap memperhatikan kondisi burung dan menghindari paparan berlebihan.
Suara Air Bisa Menjadi Bagian dari Lingkungan
Selain pencahayaan dan ketenangan, Arif menyarankan adanya suara air mengalir di sekitar kandang.
Menurut dia, pemilik dapat menggunakan akuarium sebagai salah satu pilihan.
Jika menggunakan akuarium dengan ikan hias, pilih ikan berukuran kecil dan tidak terlalu aktif agar tidak membuat burung terkejut.
“Kalau perlu sekalian dipelihara ikan hias yang kecil-kecil saja agar tidak membuat kaget burung saat ikan itu meloncat,” katanya.
Akuarium tersebut juga dapat dibuat dengan sirkulasi air sehingga suara gemericik tetap terdengar.
Namun, pemilik tetap perlu memperhatikan kebersihan air dan kondisi lingkungan kandang agar tidak justru menimbulkan gangguan baru.
Jangan Lupakan Pakan Alami
Selain lingkungan, pola pemberian pakan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Arif menyarankan pakan yang biasa diberikan tetap tersedia, termasuk biji-bijian atau pakan pabrikan sesuai kebutuhan burung.
Namun, ia menyebut pakan alami juga perlu diperhatikan.
Untuk burung branjangan, beberapa jenis pakan alami yang biasa diberikan penghobi antara lain kroto, jangkrik dan laron.
Kroto merupakan sebutan umum untuk telur atau larva semut rangrang, sedangkan jangkrik dikenal sebagai salah satu pakan tambahan bagi sejumlah burung kicau.
Hati-hati Memilih Pakan
Salah satu hal yang ditekankan Arif adalah pemilihan laron sebagai pakan tambahan.
Menurut dia, penghobi tidak boleh sembarangan mengambil laron yang ditemukan di sekitar rumah.
Ia membedakan laron yang berasal dari kelompok rayap tanah dengan laron dari rayap kayu.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, laron dari rayap kayu tertentu juga dikenal dengan sebutan werangas.
“Jangan sampai salah pilih laron,” ujarnya.
Untuk keamanan, pemilik burung sebaiknya memastikan identifikasi jenis serangga terlebih dahulu sebelum menjadikannya pakan.
Jika tidak yakin, pilihan pakan yang sudah umum digunakan dan aman untuk jenis burung tersebut dapat menjadi alternatif.
Selain kroto, jangkrik dan laron, Arif juga menyebut undur-undur sebagai salah satu pilihan pakan yang menurut pengalamannya dapat diberikan kepada burung.
Di wilayah Cirebon, undur-undur dikenal dengan sejumlah sebutan lokal, seperti bungkang atau bongkang.
Namun, pemberian pakan alami tetap perlu disesuaikan dengan jenis burung, kondisi fisik dan kebiasaan makan masing-masing burung.
Butuh Waktu untuk Kembali Gacor
Mengembalikan burung yang mengalami stres agar kembali aktif berkicau tidak bisa dilakukan secara instan.
Menurut Arif, pemilik harus memberikan waktu bagi burung untuk beradaptasi.
“Perlu dilakukan beberapa hari. Kalau stresnya berat bisa beberapa minggu baru bisa kembali berkicau,” katanya.
Karena itu, pemilik burung disarankan tidak terlalu sering memindahkan kandang, mengubah pola pakan secara mendadak atau membuat lingkungan yang terlalu ramai.
Kondisi burung perlu diamati dari hari ke hari.
Jika burung menunjukkan tanda sakit, tidak mau makan atau mengalami perubahan kondisi fisik yang mengkhawatirkan, pemeriksaan oleh dokter hewan atau tenaga yang memahami kesehatan burung tetap menjadi langkah yang lebih tepat.
Bagi penghobi, burung yang mendadak diam memang bisa membuat khawatir.
Namun, memahami penyebab perubahan perilaku menjadi langkah pertama sebelum mencoba berbagai cara untuk membuatnya kembali berkicau.









Tulis komentar Anda…Beri Komentar