ADACIREBON – Tradisi tahunan ider-ideran (karnaval) Keramat Trusmi kembali digelar dengan meriah di Desa Trusmi Wetan, Kabupaten Cirebon, Minggu (1/11/2026).

Tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya, tradisi turun-temurun ini terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal sekaligus menjaga kelestarian adat yang disakralkan.

Kemeriahan Ider-Ideran Keramat Trusmi

Sejak Minggu pagi, bahkan ada warga yang sudah datang ke pinggir jalan rute karnaval berlangsung sejak pukul 05.30 WIB, meskipun acara baru berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB.

Para juru kunci Keramat Trusmi membawa umbul-umbul, disusul sekelompok penari Baksa (Bebaksan) yang khas dari Trusmi, ogoh-ogoh dengan berbagai macam model dan ukuran, rombongan egrang, aneka seni budaya, bahkan sejumlah atraksi yang ditampilkan peserta karnaval menjadi daya tarik para pengunjung.

Tak heran jika selama karnaval berlangsung, Jalan Pantura Cirebon–Palimanan sempat macet hingga petugas kepolisian berjibaku untuk tetap buka tutup arus lalu lintas, agar lalu lintas tetap terurai.

Menurut Kepala Desa Trusmi Wetan, Anidi, ider-ideran Keramat Trusmi memiliki akar yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Cirebon.

“Arak-arakan atau Ider-ideran Keramat Trusmi ini sangat menggeliatkan, pertama dari segi ekonomi dan yang kedua terkait kelestarian adat yang memang sangat sakral,” ujar Anidi.

Ogoh-Ogoh Populer, Pakem Tradisi Tetap Dijaga

Meski atraksi ogoh-ogoh kini kian populer dan menyita perhatian masyarakat luas, Anidi mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan esensi dan pakem utama dari ider-ideran.

“Seiring waktu berjalan, yang sangat booming sekarang memang ogoh-ogoh. Tapi tradisi pakemnya itu hasil bumi, lamaran, terus lucu-lucuan yang memang menjadi ciri khas di sini,” tegasnya.

Di balik hiruk-pikuk parade, ider-ideran Keramat Trusmi memuat nilai spiritual dan pesan moral yang mendalam dari para leluhur. Salah satunya adalah imbauan untuk selalu menjaga tutur kata.

“Sebenarnya leluhur kita mengajarkan bahwa ketika Ider-ideran berarak-arakan, kita tidak boleh berkata-kata kasar,” ungkap Anidi.

Nilai gotong royong juga terpancar kuat di sepanjang rute arak-arakan. Warga yang lahannya dilalui rombongan secara sukarela bahu-membahu menyukseskan acara—mulai dari membagikan minuman dan kue gratis hingga membantu mengatur arus lalu lintas.

Keterlibatan aktif ini membuktikan bahwa pelestarian kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat.

Tradisi Memayu dan Rangkaian Acara hingga 9 November 2026

Ider-ideran ini juga berkaitan erat dengan prosesi Memayu, yakni tradisi pembongkaran dan penggantian atap rumbia pada bangunan Keramat Trusmi.

Prosesi sakral ini menjadi penanda menyambut datangnya musim hujan dan musim tanam.

Rangkaian perayaan yang dimulai sejak 31 Oktober ini dijadwalkan berlangsung hingga 9 November 2026. Warga dan pengunjung disuguhkan aneka seni pertunjukan tradisional, seperti wayang kulit dan sandiwara, kesenian Brai dan Sintren, serta musik organ.

Rangkaian acara akan ditutup pada hari terakhir dengan prosesi Memayu susulan, pertunjukan hiburan, serta acara syukuran dan tahlilan bersama.

Harapan Ider-Ideran Trusmi Menjadi Tujuan Wisata Budaya

Menutup keterangannya, Anidi berharap tradisi tahunan ini mendapat perhatian dan dukungan yang lebih besar dari Pemerintah Kabupaten Cirebon.

“Saya ingin Memayu dan Ider-ideran Keramat Trusmi tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi tahunan, tetapi juga dikembangkan menjadi tujuan wisata budaya yang menjadi kebanggaan daerah,” harap Kuwu Anidi.***