adacirebon.com – Krisis air bersih masih membayangi warga Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Sejumlah sumur milik warga dilaporkan mengering hingga empat tahun, sementara pasokan air ke permukiman RT 6 RW 8 terhenti selama sepekan terakhir.

Kondisi ini membuat kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari semakin sulit dipenuhi dan mendorong warga menantikan langkah penanganan dari pemerintah daerah.

Persoalan tersebut kembali menjadi perhatian setelah Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, meninjau langsung kawasan terdampak kekeringan pada Rabu (14/10/2026).

Dalam kunjungan itu, Farida melihat kondisi sumur warga yang tidak lagi menghasilkan air, pompa yang mengalami kerusakan, serta tempat penampungan air milik masyarakat yang kosong.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Kopi Luhur tidak hanya berkaitan dengan terhentinya distribusi dalam beberapa hari terakhir.

Sebagian warga bahkan telah menghadapi keterbatasan sumber air selama bertahun-tahun, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.

Farida mengatakan kunjungan tersebut merupakan kali ketiga dirinya mendatangi kawasan yang mengalami kekeringan. Dalam kesempatan itu, ia menerima keluhan warga mengenai pasokan air yang tidak mengalir selama sepekan.

Menanggapi laporan tersebut, Farida mengaku langsung menghubungi perusahaan daerah air minum (PDAM) agar distribusi air bersih segera dilakukan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sambil menunggu penanganan lebih lanjut terhadap persoalan sumber air di kawasan tersebut.

“Alhamdulillah, hari ini saya melakukan kunjungan ketiga ke lokasi kekeringan. Saya menerima aspirasi masyarakat yang menyampaikan bahwa sudah satu minggu air tidak mengalir ke wilayah ini. Tadi saya langsung menghubungi PDAM agar penyaluran air bisa segera dilakukan,” ujar Farida, Rabu (14/10/2026).

Meski pemerintah daerah telah meminta percepatan distribusi, kepastian mengenai volume air yang akan dikirim dan jadwal penyalurannya belum tersedia saat peninjauan berlangsung.

Warga pun masih menantikan realisasi bantuan agar kebutuhan air untuk memasak, mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya dapat terpenuhi.

Terhentinya pasokan selama sepekan menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan sumber air.

Ketika sumur tidak lagi dapat digunakan dan penampungan kosong, warga memiliki pilihan yang semakin terbatas untuk memperoleh air bersih.

Letak Dataran Tinggi Jadi Kendala Distribusi Air

Menurut Farida, kondisi geografis Kopi Luhur yang berada di kawasan dataran tinggi menjadi salah satu tantangan dalam pendistribusian air bersih.

Letak permukiman tersebut membuat penyaluran air membutuhkan perhatian khusus agar pasokan dapat menjangkau rumah-rumah warga secara efektif.

Ia menyoroti wilayah RT 6 RW 8 sebagai salah satu titik yang membutuhkan penanganan serius.

Selain berada di kawasan yang relatif tinggi, kondisi lingkungan yang kering dan sumur yang tidak lagi menghasilkan air memperberat persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Wilayah RT 6 RW 8 ini termasuk titik yang cukup tinggi. Kondisinya sangat kering, sumur-sumur yang kami periksa juga sudah tidak ada airnya. Karena itu, kebutuhan air bersih warga harus menjadi perhatian bersama agar aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan,” katanya.

Kondisi tersebut menuntut koordinasi antara Pemerintah Kota Cirebon dan PDAM untuk menentukan metode distribusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penyaluran air dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, terutama ketika sumber air mandiri tidak lagi berfungsi.

Namun, persoalan geografis bukan satu-satunya tantangan. Sumur yang mengering selama bertahun-tahun menunjukkan perlunya evaluasi terhadap keberlanjutan sumber air di Kopi Luhur.

Bantuan distribusi dapat menjadi langkah darurat, tetapi warga tetap membutuhkan solusi yang mampu mengurangi ketergantungan pada pasokan sementara.

Hingga peninjauan berlangsung, pemerintah daerah belum menyampaikan secara terperinci langkah jangka panjang untuk mengatasi sumur warga yang telah mengering selama beberapa tahun.

Belum ada pula kepastian mengenai upaya pemulihan sumber air atau pembangunan infrastruktur tambahan yang dapat menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan air bersih berlangsung setiap hari dan tidak hanya meningkat ketika musim kemarau.

Warga memerlukan akses air yang stabil agar kegiatan rumah tangga dapat berjalan tanpa terus menghadapi ketidakpastian pasokan.

Pemerintah daerah perlu mengidentifikasi penyebab mengeringnya sumur, memetakan kebutuhan air masyarakat, serta mengevaluasi kemungkinan pengembangan sumber air alternatif berdasarkan kondisi teknis dan lingkungan setempat.

Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari perencanaan penanganan yang lebih terarah, dengan mempertimbangkan kemampuan infrastruktur dan kebutuhan warga.

Selain itu, koordinasi dengan PDAM diperlukan untuk memastikan pola distribusi darurat berjalan efektif selama persoalan utama belum terselesaikan.

Kejelasan jadwal, volume pasokan, dan wilayah penerima akan membantu masyarakat mempersiapkan kebutuhan air sekaligus mengurangi ketidakpastian selama masa krisis.

Farida menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memantau kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan serupa.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama pasokan belum kembali normal.

“Saya mengimbau masyarakat, khususnya warga Kopi Luhur yang terdampak kekeringan, untuk tetap menghemat penggunaan air. Pemerintah akan terus berupaya agar bantuan dan penyaluran air bisa menjangkau warga secara merata,” ujarnya.

Bagi warga Kopi Luhur, percepatan distribusi air menjadi kebutuhan mendesak di tengah terhentinya pasokan selama sepekan.

Pada saat yang sama, mereka masih menunggu langkah konkret untuk mengatasi sumur yang mengering hingga empat tahun agar kesulitan mendapatkan air bersih tidak terus berulang tanpa penyelesaian yang berkelanjutan.