adacirebon.com- Ekowisata Caplok Barong di Blok Manis, Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kembali menarik minat wisatawan.
Rimbunan hutan mangrove, aliran sungai, pemandangan kawasan pesisir, hingga kuliner bandeng bakar khas Ambulu menjadi daya tarik yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
Kawasan wisata yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tersebut menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam jauh dari keramaian perkotaan.
Pengunjung dapat menyusuri kawasan mangrove, melihat aktivitas perahu nelayan, memancing di sungai, hingga menikmati hidangan ikan bandeng di warung sekitar lokasi.
Sebelum pandemi Covid-19, Ekowisata Caplok Barong dikenal sebagai salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi masyarakat.
Wisatawan tidak hanya datang dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, tetapi juga dari daerah lain, termasuk Jawa Tengah.
Aktivitas wisata sempat terhenti ketika pandemi melanda dan pembatasan kegiatan masyarakat diberlakukan.
Setelah melewati masa tersebut, kunjungan wisatawan perlahan kembali meningkat seiring dengan minat masyarakat untuk menikmati suasana alam dan kuliner khas pesisir.
Minarni, wisatawan asal Tegal, Jawa Tengah, mengaku kerap berkunjung bersama keluarganya karena tertarik dengan suasana mangrove dan cita rasa bandeng bakar Ambulu.
“Di samping menikmati hijaunya mangrove, saya ketagihan sama bandeng bakar yang enak dan khas rasanya. Makanya saya dan keluarga sering datang ke sini,” ungkap Minarni, Jum’at (09/12/2026).
Hutan Mangrove dan Sungai Jadi Daya Tarik Caplok Barong
Salah satu daya tarik utama Ekowisata Caplok Barong adalah hamparan hutan mangrove yang tumbuh lebat.
Pepohonan tersebut menghadirkan suasana teduh bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan sambil menikmati lingkungan pesisir.
Selain dapat menikmati rimbunan mangrove, wisatawan juga bisa melihat kawasan perairan di sekitarnya, termasuk sungai, tambak ikan, dan pantai.
Letak kawasan wisata yang berdekatan dengan lingkungan pesisir memberikan pengalaman bagi pengunjung untuk mengenal suasana kehidupan masyarakat yang berkaitan erat dengan perairan.
Sungai yang mengalir di sisi hutan mangrove turut menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut.
Aktivitas perahu nelayan yang melintas menjadi pemandangan tersendiri bagi wisatawan, terutama mereka yang jarang melihat kegiatan masyarakat pesisir secara langsung.
Tatang Saputra, pengunjung asal Cilimus, Kabupaten Kuningan, mengaku awalnya datang bersama istri dan anak-anak karena keinginan keluarganya untuk berwisata.
Namun, setelah melihat langsung suasana di lokasi, ia merasa kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan.
“Kalau saya dan istri awalnya cuma nuruti anak-anak yang mau mengunjungi kawasan wisata ini. Setelah menyaksikan langsung malah merasa puas. Karena selain bisa menikmati teduhnya mangrove, juga bisa menyaksikan sejumlah perahu nelayan, baik yang mau nangkap ikan maupun pulang melaut. Anak-anak pun senang bisa naik perahu,” kata Tatang.
Menurut Tatang, keberadaan hutan mangrove membuat suasana di kawasan wisata terasa lebih teduh.
Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam sekaligus melihat aktivitas nelayan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Desa Ambulu.
Bagi keluarga yang datang bersama anak-anak, pemandangan perahu nelayan dan suasana sungai menjadi pengalaman tambahan selama berwisata.
Kawasan ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat aktivitas masyarakat yang berlangsung di sekitar perairan.
Bisa Memancing di Sungai dengan Suasana Teduh
Selain menikmati pemandangan hutan mangrove, pengunjung Ekowisata Caplok Barong juga dapat menyalurkan hobi memancing.
Area sungai di sekitar kawasan wisata menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu dengan kegiatan tersebut.
Keberadaan pepohonan mangrove dan gazebo di tepi sungai membuat aktivitas memancing terasa lebih nyaman.
Pengunjung dapat berteduh sambil menunggu ikan menyambar umpan tanpa harus terus-menerus berada di bawah terik matahari.
Tatang mengaku fasilitas dan suasana alam di kawasan tersebut membuat kunjungannya semakin menyenangkan.
Ia dapat menikmati waktu bersama keluarga sekaligus menjalankan kegemarannya memancing.
“Bukan hanya bisa bahagiain anak sama istri aja, saya juga bisa nyalurkan hobi memancing,” kata Tatang.
Pilihan kegiatan yang beragam menjadi salah satu keunggulan kawasan wisata ini.
Pengunjung bisa berjalan-jalan di sekitar mangrove, menyaksikan aktivitas perahu nelayan, menikmati suasana sungai, atau memancing di area yang tersedia.
Kombinasi tersebut membuat Ekowisata Caplok Barong dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dengan suasana alam terbuka.
Kawasan ini juga menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan destinasi wisata yang lebih banyak menghadirkan aktivitas di tengah keramaian perkotaan.
Bandeng Bakar Ambulu Jadi Kuliner Favorit Pengunjung
Daya tarik Ekowisata Caplok Barong tidak hanya terletak pada pemandangan alamnya.
Kuliner ikan bandeng, terutama bandeng bakar khas Ambulu, turut menjadi alasan wisatawan datang kembali.
Di sekitar kawasan wisata, terdapat sejumlah warung yang menyediakan olahan ikan bandeng bakar dan goreng.
Pengunjung dapat menikmati hidangan setelah berjalan-jalan di kawasan mangrove atau melakukan aktivitas lain di sekitar sungai.
Dedi Stanza, wisatawan asal Kesambi, Kota Cirebon, mengaku betah menikmati suasana hutan mangrove Ambulu.
Menurutnya, lingkungan yang teduh dan asri memberikan kesempatan untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas di tengah kesibukan kota.
Ia merasakan suasana yang berbeda ketika berada di kawasan tersebut.
Keramaian kendaraan bermotor dan kebisingan perkotaan berganti dengan pemandangan mangrove serta suara perahu motor yang melintas di perairan.
Menurut Dedi, suasana tersebut menjadi salah satu alasan dirinya menikmati kunjungan ke kawasan wisata Desa Ambulu.
“Enak bisa ngilangin penat,” tutur Dedi.
Setelah menikmati kawasan mangrove, pengunjung juga dapat menyantap hidangan ikan bandeng yang tersedia di warung sekitar lokasi.
Harga makanan yang dinilai masih terjangkau menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
Dedi secara khusus memuji cita rasa bandeng bakar yang tersedia di kawasan tersebut.
Ia menilai olahan ikan bandeng Ambulu memiliki rasa yang khas dan tidak meninggalkan aroma lumpur yang kerap dikhawatirkan sebagian orang ketika menyantap ikan bandeng.
“Bandeng bakar di sini enak, enggak bau lumpur,” kata Dedi.
Keberadaan kuliner khas tersebut melengkapi pengalaman wisata di Caplok Barong.
Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mencicipi hidangan lokal yang menjadi bagian dari daya tarik Desa Ambulu.
Pengelolaan Ekowisata Caplok Barong oleh BUMDes
Kuwu atau Kepala Desa Ambulu, Sunaji, mengatakan Ekowisata Caplok Barong dikelola oleh BUMDes.
Kawasan tersebut telah menarik pengunjung sejak sebelum pandemi Covid-19, meskipun aktivitas wisata sempat terhenti ketika pembatasan kegiatan masyarakat diberlakukan.
Menurut Sunaji, kunjungan wisatawan kembali meningkat setelah kawasan tersebut melewati masa penutupan.
Suasana hutan mangrove dan kuliner bandeng bakar menjadi daya tarik yang membuat masyarakat kembali berkunjung.
“Sebelum pandemi Covid tahun 2019, obyek wisata ini sudah ramai dikunjungi orang. Tampaknya mereka merindukan hijaunya mangrove, sungai sama kuliner bandeng bakar-nya. Sempat ditutup pas Covid, setelah itu mulai ramai kembali hingga sekarang,” ungkap Sunaji.
Kembalinya pengunjung menunjukkan bahwa potensi wisata alam dan kuliner di Desa Ambulu masih diminati masyarakat.
Hutan mangrove, sungai, aktivitas nelayan, serta hidangan ikan bandeng menjadi kombinasi yang ditawarkan kawasan tersebut kepada wisatawan dari Cirebon maupun daerah lain.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pesisir, Ekowisata Caplok Barong menghadirkan pilihan aktivitas dalam satu kawasan, mulai dari menikmati rimbunan mangrove hingga mencicipi kuliner khas Ambulu.













Tulis komentar Anda…Beri Komentar