adacirebon.com – Rencana pembangunan jalan layang atau flyover di kawasan Pilang–Krucuk, Cirebon, mulai menjadi perhatian masyarakat.
Proyek yang diproyeksikan mengurai kemacetan di perlintasan kereta api tersebut mendapat dukungan dari sebagian warga, tetapi juga memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap akses permukiman dan kelangsungan usaha pedagang di sepanjang jalur pembangunan.
Pemerintah pusat merencanakan pembangunan flyover yang menghubungkan kawasan Pilang, Kabupaten Cirebon, dengan Jalan Slamet Riyadi di kawasan Krucuk, Kota Cirebon.
Proyek tersebut direncanakan menggunakan anggaran pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Gunawan, membenarkan rencana pembangunan infrastruktur tersebut.
Menurutnya, pembiayaan proyek akan bersumber dari APBN, sedangkan jalur yang direncanakan membentang sekitar 400 meter.
“Anggaran pembangunan jalan layang tersebut bersumber dari APBN,” ujar Gunawan, Selasa (13/10/2026).
Proyek flyover tersebut diperkirakan akan dimulai dari kawasan Pilang yang berada di ruas jalan nasional.
Jalur tersebut kemudian diarahkan menuju Jalan Slamet Riyadi, kawasan Krucuk, Kota Cirebon.
Gunawan menjelaskan, titik akhir jalan layang diperkirakan berada di sekitar rumah makan Empal Gentong Krucuk.
Meski demikian, penentuan trase dan detail teknis pembangunan masih perlu mengacu pada dokumen perencanaan resmi yang ditetapkan pemerintah.
“Diperkirakan turunannya di sekitar Empal Gentong Krucuk,” katanya.
Rencana pembangunan tersebut menjadi perhatian karena kawasan Pilang–Krucuk memiliki peran penting sebagai jalur penghubung aktivitas masyarakat di Kota dan Kabupaten Cirebon.
Arus kendaraan yang melintas di kawasan itu kerap mengalami hambatan ketika kereta api melintasi perlintasan sebidang.
Setiap kali palang pintu perlintasan tertutup, kendaraan dari kedua arah harus berhenti hingga kereta melintas.
Antrean pun berpotensi memanjang, terutama ketika volume kendaraan meningkat pada jam sibuk.
Kehadiran flyover diharapkan dapat memisahkan arus kendaraan dari perjalanan kereta api sehingga pengguna jalan tidak lagi bergantung pada waktu buka-tutup perlintasan.
Jika terealisasi sesuai perencanaan, infrastruktur tersebut berpotensi memperlancar perjalanan masyarakat yang setiap hari melintasi jalur Pilang–Krucuk.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada desain akhir, pengaturan lalu lintas, serta kemampuan pemerintah mengantisipasi dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.
Pedagang Khawatir Akses Usaha Terganggu
Di balik harapan untuk mengurangi kemacetan, sebagian warga meminta pemerintah memperhitungkan dampak pembangunan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Kekhawatiran terutama berkaitan dengan akses menuju tempat usaha dan permukiman yang berada di sepanjang jalur rencana flyover.
Liani, salah seorang warga sekitar, mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan kemacetan.
Menurutnya, kelancaran lalu lintas perlu berjalan seiring dengan perlindungan kepentingan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi proyek.
“Jangan hanya memikirkan kemacetan. Pemerintah juga harus melihat dampaknya terhadap warga dan pedagang di sepanjang jalan. Kalau akses usaha tertutup atau jalan menjadi sulit dilalui, masyarakat juga yang dirugikan,” kata Liani.
Ia menilai akses menuju tempat usaha dan lingkungan permukiman harus masuk dalam pertimbangan sejak tahap perencanaan.
Dengan demikian, pembangunan tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan perdagangan di kawasan tersebut.
Selama pekerjaan konstruksi berlangsung, pengaturan lalu lintas dan jalur alternatif juga menjadi perhatian.
Penutupan sebagian ruas jalan, apabila diperlukan, berpotensi memengaruhi mobilitas pelanggan maupun distribusi barang ke tempat usaha.
Karena itu, warga berharap pemerintah menjelaskan rencana teknis pembangunan secara terbuka, termasuk pengaturan akses selama pekerjaan berlangsung.
Kepastian mengenai jalur masuk permukiman, akses toko, serta rekayasa lalu lintas dinilai penting agar masyarakat dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan kondisi jalan.
Warga Mendukung Flyover untuk Mengurai Kemacetan
Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan Yudi, warga lainnya yang menyambut baik rencana pembangunan flyover Pilang–Krucuk.
Ia menilai jalan layang diperlukan untuk mengurangi antrean kendaraan yang selama ini muncul ketika kereta api melintas di kawasan Krucuk.
“Kalau memang bisa mengurangi kemacetan, saya sangat mendukung. Selama ini kalau kereta lewat, kendaraan harus berhenti dan antre. Mudah-mudahan dengan adanya flyover, perjalanan masyarakat jadi lebih lancar,” ujarnya.
Yudi berharap pembangunan tersebut memberikan manfaat nyata bagi pengguna jalan, khususnya masyarakat yang setiap hari melintasi jalur penghubung Kota dan Kabupaten Cirebon untuk bekerja, berdagang, maupun menjalankan aktivitas lainnya.
Menurutnya, pengurangan hambatan di perlintasan kereta api dapat membantu meningkatkan kelancaran perjalanan.
Meski begitu, ia berharap pemerintah tetap memperhatikan kondisi jalan di sekitar proyek agar manfaat infrastruktur dapat dirasakan secara menyeluruh.
Perbedaan tanggapan antara Liani dan Yudi memperlihatkan dua kepentingan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan flyover.
Di satu sisi, masyarakat membutuhkan solusi untuk mengatasi antrean kendaraan. Di sisi lain, keberadaan permukiman dan tempat usaha menuntut pengaturan akses yang matang.













Tulis komentar Anda…Beri Komentar