ADACIREBON – Sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp keluarga. Isinya kabar tentang seseorang, disertai tangkapan layar percakapan yang tidak utuh. Belum jelas duduk perkaranya, tetapi komentar mulai berdatangan.

Bayangkan kita berada dalam percakapan seperti itu. Ada keinginan ikut menanggapi, mungkin sekadar bercanda atau menunjukkan bahwa kita juga tahu ceritanya. Jari sudah mengetik beberapa kata. Padahal, orang yang sedang dibicarakan belum tentu mengetahui namanya menjadi bahan obrolan.

Di saat seperti inilah menjaga lisan mendapat ujian yang berbeda. Kita bisa melukai seseorang tanpa pernah berbicara di hadapannya.

Menjaga Lisan, Menjaga Tulisan

Cendekiawan Muslim, Prof. Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan pentingnya mempertimbangkan manfaat sebelum berbicara.

“Silakan Anda berbicara kalau bermanfaat atau menampik sebuah kemudaratan,” tuturnya, sebagaimana dikutip NU Online dalam pemberitaan pada 17 September 2022.

Dalam penjelasan tersebut, Quraish juga mengingatkan agar seseorang tidak membawa kabar ke sana kemari hingga memperkeruh hubungan orang lain.

Nasihat itu terasa dekat dengan kebiasaan kita menggunakan ponsel. Sebuah komentar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diketik. Namun, orang yang membacanya bisa membawa perasaan tidak nyaman sepanjang hari.

Terlebih dalam percakapan tertulis, nada suara tidak terdengar. Kalimat yang kita anggap biasa dapat diterima sebagai sindiran. Candaan yang terasa lucu bagi pengirimnya belum tentu menyenangkan bagi orang yang menjadi sasaran.

Karena itu, memberi jeda sebelum mengirim pesan merupakan kebiasaan yang layak dilatih. Baca sekali lagi. Periksa apakah ada kata yang merendahkan atau tuduhan yang belum jelas dasarnya.

Kabar yang Benar Belum Tentu Perlu Disebarkan

Majelis Ulama Indonesia, melalui panduan Fatwa Nomor 24 Tahun 2017 tentang bermuamalah di media sosial, menekankan perlunya memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa informasi yang benar belum tentu pantas dibagikan kepada publik.

Kita bisa mengambil contoh sederhana: seorang kerabat sedang menghadapi persoalan rumah tangga. Mengetahui masalahnya tidak serta-merta membuat kita berhak meneruskannya ke grup lain.

Barangkali yang ia butuhkan justru teman untuk mendengarkan, bantuan yang konkret, atau kesempatan menyelesaikan urusannya dengan tenang.

Sebelum membagikan cerita orang lain, coba pikirkan bagaimana perasaan kita jika berada di posisinya. Apakah kita rela percakapan pribadi menjadi konsumsi banyak orang?

Mulai dari Pesan Berikutnya

Menjaga tulisan bukan berarti kita harus diam ketika melihat kesalahan. Teguran tetap diperlukan, tetapi pilihan kata dan cara menyampaikannya perlu dipikirkan.

Jika persoalannya pribadi, percakapan langsung sering kali memberi ruang yang lebih baik untuk saling memahami. Orang yang ditegur dapat menjelaskan, sementara kita juga punya kesempatan mendengar cerita secara utuh.

Kalau telanjur mengirim pesan yang menyakitkan, kita masih bisa memperbaikinya. Akui kekeliruan, luruskan kabar yang salah, dan sampaikan permintaan maaf kepada orang yang dirugikan.

Kita tidak harus menunggu persoalan besar untuk belajar menjaga lisan. Latihannya bisa dimulai dari pesan berikutnya: menghapus satu kalimat yang merendahkan, menunda meneruskan kabar yang meragukan, atau memilih bertanya dengan baik.

Sebelum menekan kirim, sisakan waktu untuk mengingat orang yang akan membacanya. Ada hati yang perlu kita jaga.***