ADACIREBON – Pernahkah Anda membuka media sosial untuk mencari hiburan, tetapi justru menutupnya dengan perasaan tertinggal?

Seorang teman mengunggah foto rumah barunya. Teman yang lain sedang berlibur bersama keluarga. Sementara kita masih memikirkan tagihan listrik, uang sekolah anak, dan kebutuhan dapur yang terus berjalan.

Ikut senang tentu ada. Namun, terkadang muncul pertanyaan yang sulit ditepis: kapan giliran saya?

Perasaan seperti itu bisa datang kepada siapa saja. Terlebih ketika kita merasa sudah bekerja keras, tetapi keadaan belum banyak berubah. Menasihati diri sendiri untuk bersyukur pun kadang terasa sulit saat kebutuhan mendesak belum terpenuhi.

Belajar Bersyukur Tanpa Menyangkal Kesulitan

Ada baiknya kita mengingat bahwa unggahan seseorang hanya memperlihatkan bagian hidup yang ia bagikan. Kita melihat rumah barunya, tetapi belum tentu mengetahui berapa lama ia menabung atau kesulitan apa yang pernah dilaluinya.

Kita pun tidak perlu menduga bahwa di balik kebahagiaan orang lain pasti tersimpan penderitaan. Cukup sadari bahwa cerita yang kita lihat belum lengkap untuk dijadikan ukuran keberhasilan hidup sendiri.

Cendekiawan Muslim, Prof. Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan bahwa rezeki juga perlu dilihat dari keberkahannya.

“(Rezeki) yang sedikit tapi berkah, lebih bagus dari yang banyak tetapi tanpa berkah,” katanya, sebagaimana dimuat NU Online pada 26 Februari 2022.

Dalam penjelasan tersebut, Quraish juga menyampaikan bahwa rezeki dapat hadir dalam bentuk ketenangan batin, bukan semata-mata materi.

Nasihat itu dapat menjadi pengingat untuk memperhatikan hal-hal yang selama ini luput kita syukuri. Ada keluarga yang bersedia mendengarkan, teman yang membantu saat kesulitan, atau kesempatan bekerja yang masih bisa diusahakan.

Meski demikian, bersyukur tidak menghapus kenyataan bahwa biaya hidup harus dipenuhi. Orang yang sedang kesulitan tetap membutuhkan bantuan dan jalan keluar.

Merasa Cukup Sambil Terus Berusaha

Dalam ajaran Islam, sikap menerima dan mensyukuri karunia Allah dikenal dengan qanaah.

Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, Agus Saiful Bahri, menjelaskan bahwa qanaah berjalan bersama ikhtiar. Seseorang tetap berusaha sebaik mungkin, kemudian menerima hasilnya dengan syukur dan rida.

Penjelasan itu disampaikan dalam program Cahaya Mimbar di Masjid Al Hidayah Wirobrajan, Kamis (3/9/2026), sebagaimana diberitakan Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta.

Kita boleh ingin mempunyai rumah yang lebih nyaman. Boleh mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih baik. Keinginan memperbaiki kehidupan tidak perlu membuat kita merasa bersalah.

Yang perlu diperhatikan ialah ketika pencapaian orang lain mulai menentukan seluruh penilaian kita terhadap diri sendiri. Seolah kerja keras selama ini tidak berarti hanya karena hasilnya belum tampak sebesar milik mereka.

Mengembalikan Perhatian pada Kehidupan Sendiri

Saat perasaan tertinggal mulai mengganggu, kita bisa berhenti sejenak dari layar ponsel. Lihat kembali kebutuhan yang benar-benar penting dan langkah yang masih mungkin dikerjakan.

Mungkin bulan ini kita belum mampu menabung banyak, tetapi sudah berhasil mengurangi satu pengeluaran. Mungkin usaha belum berkembang, tetapi ada pelanggan yang kembali membeli. Kemajuan kecil seperti itu tetap layak dicatat.

Jika keadaan sedang berat, ceritakan kepada orang yang dipercaya. Meminta bantuan tidak mengurangi harga diri, sebagaimana mengakui rasa lelah tidak serta-merta berarti kita kurang bersyukur.

Kita bisa ikut berbahagia atas keberhasilan orang lain sambil memberi ruang bagi perjalanan sendiri.

Malam nanti, sebelum kembali menggulir layar, cobalah mengingat satu hal yang patut disyukuri hari ini dan satu langkah yang ingin diusahakan besok. Mulailah dari situ.***