ADACIREBON – Di tengah godaan gaya hidup modern yang serba materialistis, sebuah potongan dialog ceramah dari pendakwah kenamaan Ustadz Abdul Somad (UAS) kembali menyita perhatian publik.
Melalui analogi sejarah yang tajam dan tak terduga, UAS mengajak jamaah untuk menguji kembali kejujuran hati nurani dalam menentukan arah keberpihakan hidup.
Dalam sebuah ceramahnya, UAS melempar pertanyaan sederhana namun memantik perenungan mendalam kepada para jamaah:
“Andai kita hidup pada zaman Fir’aun, kira-kira kita jadi pengikut siapa, Fir’aun atau Nabi Musa?”
Sontak, para jamaah menjawab dengan kompak dan penuh keyakinan: “Musa!”
Sentilan Nyata, Pilihan Antara Kenyamanan Dunia dan Keteguhan Iman
Mendengar jawaban spontan tersebut, UAS tak lantas membenarkannya.
Ia justru membeberkan realitas objektif yang membalikkan pemikiran awam.
UAS menguraikan betapa menggiurkannya fasilitas dan kenyamanan hidup yang ditawarkan oleh penguasa saat itu, Fir’aun.
UAS memaparkan bahwa Fir’aun adalah sosok yang:
- Membangun Kota dan Infrastruktur: Membangun kemegahan Mesir hingga piramida.
- Kekuatan Ekonomi dan Militer: Sosok paling kaya yang memiliki bala tentara terkuat dan pengikut terbanyak.
- Jaminan Sosial dan Hiburan: Mampu memberikan perlindungan, jaminan kebutuhan pokok, hingga hiburan bagi rakyatnya.
“Bahkan jika teknologinya sudah ada saat itu, mungkin Kartu Mesir Sehat dan Kartu Mesir Pintar juga dibuat oleh Fir’aun,” kelakar UAS yang disambut keheningan jamaah.
Sebaliknya, UAS menggambarkan ketiadaan fasilitas duniawi pada diri Nabi Musa AS.
Beliau hanyalah seorang penggembala kambing yang bicaranya tidak fasih dan hanya berbekal sebatang tongkat kayu.
Nabi Musa bahkan mengajak pengikutnya menyeberangi lautan luas tanpa perahu maupun kapal.
Saat ditanya kembali apakah mereka masih yakin memilih Nabi Musa di situasi nyata seperti itu, para jamaah seketika tertunduk dan terdiam seribu bahasa.
Penyakit Al-Wahn dan Sejarah yang Terus Berulang
UAS menegaskan bahwa karakter manusia dari zaman kuno hingga era modern sejatinya tidak banyak berubah.
Banyak orang mudah silau oleh harta, jabatan, pengaruh, serta jaminan materi—sebuah fenomena yang dalam ajaran Islam dikenal sebagai penyakit Al-Wahn (cinta dunia yang berlebihan dan takut mati).
Menurut UAS, wujud fisik Fir’aun mungkin telah musnah ditelan sejarah, namun karakter dan sistem ala Fir’aun akan terus ada hingga akhir zaman dalam bentuk serta nama yang berbeda.
Catatan Akhir, Di Mana Posisi Kita Berpihak?
Pesan utama yang ingin disampaikan UAS bukanlah sekadar kalkulasi kemenangan fisik di dunia.
Sejarah telah mencatat bahwa dengan izin Allah SWT (biidznillah), kebatilan Fir’aun pada akhirnya tumbang di tangan keteguhan Nabi Musa AS.
Siapa pun yang memegang kekuasaan telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Namun hal terpenting yang akan dinilai dan dicatat oleh Allah SWT adalah di mana posisi kita berpihak ketika dihadapkan pada pilihan antara kebenaran dan kesenangan semu.
Semoga kita senantiasa diberikan hidayah dan kekuatan untuk tetap teguh berdiri di atas jalan kebenaran.*











Tulis komentar Anda…Beri Komentar